PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia tentang Pendekatan Pengalaman Berbahasa

Judul : PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA  MELALUI PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA  PADA SISWA KELAS I SD NEGERI I MASARAN  KABUPATEN SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2005/2006

BAB I  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia
PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia

Pada dasarnya keterampilan membaca sangat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena pengetahuan apapun tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca. Hal ini dikarenakan bahwa semua cabang ilmu pengetahuan yang ada, disajikan dalam bentuk bahasa tulis yang dikemas dalam bentuk sebuah buku Oleh sebab itulah, penguasaan keterampilan membaca sangat diperlukan setiap orang agar ia dapat mentransfer semua ilmu pengetahuan dari buku ke dalam pikirannya. Jadi tanpa keterampilan membaca semua pengetahuan akan terasa sia-sia dan tak bermanfaat. Sejalan dengan hal itu, Tarigan (1998:4.1) menyebutkan bahwa membaca sangat fungsional dalam hidup dan kehidupan manusia. Membaca adalah kunci ke arah gudang ilmu. Siapa pintar membaca dan banyak membaca maka yang bersangkutan banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman.
PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia Dewasa ini kebiasaan membaca pada kebanyakan anggota masyarakat Indonesia belum berkembang dengan baik. Kecenderungan orang untuk mendapatkan informasi melalui komunikasi lisan tampak lebih kuat ketimbang melalui komunikasi tulis. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa minat dan kebiasaan membaca di kalangan masyarakat Indonesia relatif masih rendah. Kegiatan membaca belum membudaya. Demikian juga yang terjadi di sekolah. Kadang-kadang menurunnya prestasi belajar siswa bukan disebabkan oleh ketidakmampuannya mengikuti pelajaran, melainkan oleh kemalasannya belajar mandiri melalui kegiatan aktif membaca. Seperti kita ketahui bahwa membaca adalah cara yang paling efektif untuk belajar mandiri (Mulyati 1998:4.7).
PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia Mengingat betapa besarnya peran membaca dalam keberhasilan seseorang, maka upaya pembinaan untuk meningkatkan keterampilan, minat, dan kebiasaan membaca seseorang perlu dilakukan sejak dini. Sekolah dasar merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang turut andil dalam menentukan keberhasilan prestasi membaca yang berpengaruh serta tehadap keberhasilan belajar selanjutnya. Tak hanya keberhasilan membaca dan bahasa saja melainkan keberhasilan pada prestasi ilmu lain seperti IPA, matematika, sosial, dan cabang ilmu lainnya (Paa 1998:2.1)
Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu mata pelajaran pokok pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi. Mata pelajaran ini merupakan sarana untuk menumbuhkembangkan dan meningkatkan keterampilan berbahasa siswa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1993:17), khususnya meningkatkan keterampilan membaca, yang menjadi salah satu bidang garapannya.
penelitian tindakan kelas Kelas 1 SD adalah jenjang pendidikan awal, di sini mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia lebih dititikberatkan pada kemampuan membaca siswa.  Di kelas ini, materi membaca diberikan selama 48 jam tiap semester dengan rata-rata 4 x pertemuan tiap minggu. Ini berarti bahwa dalam mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang total diberikan 180 jam persemester, materi membaca mendapatkan jatah waktu yang lebih banyak daripada materi lain.
Materi membaca diberikan di kelas 1 SD, dengan tujuan agar anak didik mampu mengenal huruf, selanjutnya merangkainya menjadi sebuah kata, kemudian menjadi sebuah kalimat yang harus ia pahami maknanya. Secara sederhana membaca di kelas 1 SD lebih ditekankan pada upaya anak “melek huruf”. Artinya, mendidik anak agar anak dapat mengenali dan mengubah lambang-lambang tertulis menjadi bunyi-bunyi yang bermakna (Supriyadi 1996:128).
Praktik pengajaran membaca di kelas 1 SD tidaklah mudah seperti pelaksanaan pengajaran di SLTP dan SMA, kondisi psikologis mereka yang masih labil adalah faktor utama penyebab kegagalan dalam pengajaran membaca di kelas 1 SD. Hal ini berakibat pada kegagalan tujuan pengajaran membaca yang tidak tercapai secara maksimal. Berbagai metode dan pendekatan pengajaran membaca sudah diujicobakan sebagai upaya untuk mengatasi dan memperbaiki kualitas membaca mereka. Akhirnya metode dan pedekatan itu tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan.
PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia Siswa kelas 1 SD Negeri Masaran 1 Kabupaten Sragen, adalah salah satu sekolah dasar negeri di Kabupaten Sragen yang mengalami masalah dengan pengajaran membaca. Dari hasil wawancara dengan guru wali kelas, yang sekaligus  sebagai guru pengajar materi membaca di kelas 1, diperoleh kesimpulan bahwa prestasi membaca mereka sangatlah rendah. Rendahnya kualitas membaca mereka teridentifikasi dari kecepatan membaca, rendahnya minat baca, dan kualitas membaca mereka yang masih terbata-bata, serta rendahnya pemahaman terhadap isi bacaan.
Salah satu upaya yang telah dilakukan guru untuk mengatasi masalah di atas adalah dengan menyuruh siswa agar selalu berlatih membaca dan meningkatkan intensitas membacanya. Dengan demikian, diharapkan kualitas membaca siswa dapat berangsur membaik dan akhirnya diperoleh prestasi membaca siswa yang lebih baik dari sebelumnya.
Upaya yang guru lakukan sebenarnya tidak keliru, karena secara teori, orang yang sering membaca kualitas membacanya akan berangsur menjadi lebih baik. Namun tidak demikian halnya dengan masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru di SD ini. Setelah dimotivasi, bukannya siswa menuruti anjuran guru untuk terus berlatih membaca, tetapi justru mereka semakin enggan untuk melakukan aktivitas membaca. Ketika disuruh membaca, meskipun dengan bersusah payah dan terbata-bata, mereka sanggup menyelesaikannya. Akan tetapi, ketika ditanya apa isi bacaan yang baru saja dibaca, mereka hanya diam dan kelihatan bingung. Masalah ini sebenarnya bukan masalah intern yang hanya dialami oleh siswa dan guru kelas 1 di SD Negeri 1 Masaran saja, melainkan selalu terjadi setiap tahun ajaran baru pada jenjang pendidikan yang sama tanpa mengenal batas lokasi sekolah. Informasi ini diperoleh dari keterangan guru pengajar kelas 1 di SD Negeri I Masaran.
Dari evaluasi yang telah dilakukan guru, diperoleh kesimpulan bahwa keengganan membaca, rendahnya minat baca, serta rendahnya prestasi membaca siswa, disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor ini adalah, (1) ketidakcocokkan bahan ajar membaca (wacana/bacaan) yang disajikan oleh guru. Meskipun pemilihan bahan ajar membaca (wacana/bacaan) ini sudah dilakukan dengan sangat selektif. Guru sering mengambil wacana dari  buku teks yang diterbitkan oleh Departeman Pendidikan Nasional maupun dari buku teks yang diterbitkan oleh penerbit yang terkenal “bonafit” dalam mencetak buku teks untuk kelas 1 sekolah dasar, serta dari sumber-sumber lainnya; (2) kosakata yang digunakan dalam wacana tidak dikenal oleh siswa; dan (3) struktur kalimat yang tidak sesuai untuk anak kelas 1 sekolah dasar. Ketiga faktor inilah yang disebut sebagai faktor dominan yang menyebabkan tujuan pengajaran membaca di kelas 1 SD Negeri 1 Masaran yang sudah dirumuskan dalam kurikulum, tidak dapat tercapai secara maksimal.
PTK SD Kelas 1 Bahasa Indonesia tentang pengalaman berbahasa Pendekatan pengalaman berbahasa adalah salah satu pendekatan pengajaran membaca yang memang diformulasikan untuk meningkatkan minat baca dan prestasi membaca siswa sekolah dasar kelas rendah (kelas 1 dan kelas 2). Pendekatan yang didasarkan atas pengalaman anak dalam menggunakan bahasanya ini, melalui prosesnya dalam kegiatan belajar mengajar, diharapkan dapat menemukan dan mengembangkan bahan pelajaran membaca yang cocok untuk siswa kelas 1 sekolah dasar. Karena dalam proses belajar mengajar membaca yang dikembangkan melalui pendekatan pengalaman berbahasa ini, dapat dihasilkan sebuah bahan ajar membaca yang secara serempak bisa mengembangkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sekaligus (Muchlisoh 1996:223-224). Selain itu, bahan ajar membaca yang dihasilkan dalam proses belajar mengajar melalui pendekatan pengalaman berbahasa akan menghasilkan sebuah wacana yang sesuai dengan pengalaman, minat, lingkungan, kebutuhan, dan kemampuan siswa kelas 1 sekolah dasar. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan tentang syarat bahan ajar membaca, karena dalam pengajaran membaca yang didesain dengan pendekatan pengalaman berbahasa ini, anak-anaklah yang menentukan dan mengembangkan wacana, maka jelas bahwa wacana yang dihasilkan dalam pendekatan pengalaman berbahasa akan memiliki isi, kosakata, dan struktur kalimat yang sesuai dengan anak usia 7 tahun (siswa kelas 1 SD). lihat juga contoh tesis manajemen disini
ptk kelas 1 sd bahasa indonesia Dengan adanya beberapa keunggulan-keunggulan tentang pengajaran membaca yang didesain dengan pendekatan pengalaman berbahasa seperti yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini akan mengujicobakan pendekatan pengalaman berbahasa untuk mengatasi permasalahan tentang prestasi membaca yang sedang dialami oleh siswa dan guru kelas 1 SD Negeri Masaran I, dengan menggunakan desain penelitian tindakan kelas (action research).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>