PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1

PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1
PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1

PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1 STUDI DESKRIPTIF PEMAHAMAN KONSELOR TENTANGLAYANAN KONSULTASI BIMBINGAN DAN KONSELINGPADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI (SMPN)  SUB RAYON 03 KOTA SEMARANGTAHUN PELAJARAN 2008/2009

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pustaka merupakan unsur yang penting dalam suatu penelitian, sebab pustaka dapat dijadikan sebagai kerangka berfikir bagi peneliti untuk memahami dan menerangkan fenomena yang menjadi pusat perhatian peneliti. Dalam bab ini akan membahas teori yang melandasi penelitian, yaitu mengkaji pemahaman konselor tentang layanan konsultasi Bimbingan dan Konseling.  
2.1 Pemahaman Konselor
2.1.1. Konsep Pemahaman
Memahami menurut Tyler diartikan sebagai usaha merenggut makna secara jelas dan lengkap terhadap apa yang telah dijelaskan. Pemahaman menurut Gilmore juga merupakan kemampuan merenggut makna dan atau kemampuan untuk memprediksi, sebagai tugas yang amat sulit (dalam Awalya, 1995: 31). Pemahaman tidak dapat dilakukan seseorang dengan mudah, karena dalam memahami tidak cukup untuk sekedar mengingat tetapi harus dapat memperoleh makna dan kemudian dapat menjelaskan apa yang dipahami dengan baik.
Pemahaman adalah suatu proses, seperti yang dikemukakan oleh Gilmore (dalam Awalya, 1995: 32) bahwa terdapat tiga fase proses pemahaman yang dapat dilakukan konselor. Proses pemahaman dapat dilakukan dengan tiga tahapan yang dijelaskan sebagai berikut:
12
a.    Fase I/ Data Input, yaitu konselor menerima informasi verbal dan non verbal.
b.    Fase II/ Data Processing, yaitu informasi yang telah diperoleh kemudian diproses melalui sistem konstruk konselor, diorganisir dan disimpan.
c.    Fase III/ Data Output, yaitu melakukan koreksi, konfirmasi, dan kemudian tindakan lanjutan terhadap informasi yang telah diperoleh konselor.

PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1 Proses pemahaman yang dilakukan oleh konselor terdapat dalam keseluruhan wilayah kehidupan. Terdapat tiga klasifikasi wilayah kehidupan dalam proses pemahaman, meliputi wilayah kehidupan pekerjaan, wilayah kehidupan hubungan atau persahabatan, dan wilayah kehidupan ketersendirian. Ketiga wilayah ini juga perlu dipertimbangkan dalam mengkaji proses pemahaman. Sehingga dapat dimaknai bahwa dalam fase input, processing, dan output perlu diungkapkan juga keterkaitannya dengan wilayah pekerjaan, hubungan atau persahabatan, dan ketersendirian.
Kedudukan wilayah yang berbeda, dapat diselesaikan dengan berbeda pula. Pada periode tertentu satu wilayah dapat menjadi lebih sentral bagi keberadaan seseorang, atau ketiga wilayah itu bertautan menjadi suatu kombinasi aktivitas, atau menjadi kompleks secara terus-menerus diantara aktivitas-aktivitas dalam satu wilayah dan tuntutan-tuntutan dari wilayah lain (Awalya, 1995: 32).
Mencapai suatu pemahaman, diperlukan adanya pengetahuan dan keterampilan dari seorang konselor. Pengetahuan yang mendalam dimiliki oleh konselor berkenaan dengan teori yang mendasari suatu permasalahan yang ingin diketahui. Keterampilan pada umumnya memiliki keterkaiatan dengan adanya praktik. Konselor yang terampil adalah konselor yang memenuhi karakteristik kompetensi konselor dalam melaksanakan tugas. Karakteristik konselor yang diperlukan dalam pemahaman itu menurut Brammer, mengarah pada efektifitas yang berwujud emphaty, hangat dan penuh perhatian (warmth and caring), terbuka (openess), penghargaan secara positif (positive regard), dan kekonkritan dan kekhususan (concreteness and specifity) (dalam Awalya, 1995: 27).
PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1 Pendapat lain menungkapkan beberapa karakteristik yang harus dimiliki konselor untuk dapat memahami, diantaranya:
a.    Rogers, menekankan penghargaan dan penerimaan yang tidak bersyarat apapun dan empati atau pengertian terhadap pengalaman, pikiran, perasaan. Keserasian yang berarti bahwa konselor menyadari reaksi-reaksi dalam batinnya sendiri.
b.    Truax dan Carkhuff, mengemukakan pengertian terhadap konseli yang dikomunikasikan juga kepada konseli secara jelas, perhatian kepada konseli yang tidak membuat konseli menggantungkan diri pada konselor, konselor ikhlas berarti tidak berpura-pura atau bersandiwara.
c.    Tyler, menyebut dua sikap dasar yaitu penerimaan kepada konseli dan pengertian atau pemahaman, serta kemampuan untuk mengkomunikasikan kepada konseli apa yang ditangkap oleh konselor mengenai pikiran dan perasaan konseli.
d.    Shertzer & Stone menyatakan bahwa penerimaan dan pengertian atau pemahaman yang kedua-duanya dapat dipandang sebagai sikap dasar atau sebagai keterampilan khusus.

2.1.2. Pengertian Konselor
Kata konselor menegaskan petugas pelaksana pelayanan konseling. Sebutan pelaksana pelayanan ini telah berkembang, yaitu dari tenaga penyuluh, tenaga BP, guru BP/BK, guru pembimbing, dan sekarang menjadi konselor. Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang konselor jika berlatar belakang pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Bimbingan Konseling (BK), atau Bimbingan Penyuluhan (BP) (http://wikipedia.org).
“Konselor adalah seorang ahli dalam bidang konseling, yang memiliki kewenangan dan mandat secara profesional untuk melaksanakan kegiatan pelayanan konseling” (Prayitno, 2004: 6). Dijelaskan juga bahwa “konselor sekolah adalah seorang tenaga profesional yang memperoleh pendidikan khusus di perguruan tinggi dan mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan Bimbingan dan Konseling” (Winkel, 2005: 167).
Dari beberapa pengertian konselor yang telah dijelaskan, maka dapat disimpulkan bahwa konselor adalah seseorang yang mempelajari konseling dan secara profesional dapat melaksanakan pelayanan konseling dengan berlatar belakang pendidikan minimal S1 Jurusan BK. Pelayanan konseling yang dilaksanakan oleh konselor, salah satunya adalah layanan konsultasi BK.  Dalam layanan konsultasi BK, seorang konselor harus mampu mengembangkan WPKNS (wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap) konsulti.
2.1.3. Kualitas Pribadi  Konselor
Pelayanan bimbingan dan konseling diminati oleh orang yang menghendaki kondisi hidup yang membahagiakan. Pelayanan ini dikatakan profesional apabila dilakukan oleh seorang konselor yang berkualitas. Kualitas seorang konselor salah satunya dapat dinilai dari pribadinya. Kualitas pribadi konselor adalah kriteria yang menyangkut segala aspek kepribadian yang amat penting dan menentukan keefektifan konselor jika dibandingkan dengan pendidikan dan latihan yang ia peroleh.
PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1 Beberapa ahli mengungkapkan karakteristik konselor yang menunjang kualitas pribadi konselor. Menne (dalam Willis, 2004: 80) menyebutkan ’kualitas pribadi konselor yaitu: 1) memahami dan melaksanakan etika profesional, 2) mempunyai rasa kesadaran diri mengenai kompetensi, nilai, dan sikap, 3) memiliki karakteristik diri yaitu respek terhadap orang lain, kematangan pribadi, memiliki kemampuan intuitif, fleksibel dalam pandangan dan emosional stabil, 4) kemampuan dan kesabaran untuk mendengarkan orang lain dan kemampuan berkomunikasi’.

2 thoughts on “PTK bimbingan Konseling SMP kelas 1”

  1. Tim PTK yth.
    saya telah mendaftar sebagai anggota/registasi sebagai anggota, dan membutuhkan PTK bimbingan konseling SMA dan telah memenuhi permintaan sebagai mana ketentuan,Pembayaran di Mandiri melalui transfer sebesar Rp. 65,387 ke Mandiri cabang UJUNGBERUNG BANDUNG a/n NURUL HAQ RAMDANI a/c 1310005876067 namun saat konfirmasi pembayaran setelah transfer mengalami kesulitan , dan muncul kalimat “Untuk Mendownload Semua PTK yang ada di Web ini silahkan anda Daftar Menjadi Member Dulu Yah.. ” , apa yang saya lakukan, terima kasih

    1. Keanggotaan anda sudah diupgrade menjadi menjadi premium member.
      Anda bisa mendownload semua ptk yang ada di premium member blog ini semuanya

      salam ptk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>