Berdasarkan pengamatan, pelaksanaan PTK yang berkolaborasi antara guru dengan dosen LPTK masih menampahkan kekurangtepatan persepsi. Pertama, dosen LPTK menempatkan dirinya sebagai pembina guru, baik dalam konteks sekolah dasar maupun dalam konteks sekolah menengah. Dosen masih merasakan bahwa dirinya adalah pakar yang harus mengarahkan kalau perlu mendiktekan idenya kepada para guru. Permasalahan PTK lalu tidak berakar di kelas, tetapi berakar pada gagasan dosen LPTK. Guru tidak atau kurang menghayati permasalahan yang dilontarkan oleh dosen dengan cara seperti itu. Kedua, kekurangan persepsi itu berkaitan dengan pendekatan penelitian yang diterapkannya, yakni penelitian formal. Dalam hal semacam itu, dosen LPTK cenderung memberikan pelatihan pada guru dan yang terjadi bukanlah PTK melainkan pengembangan staf atau program pelatihan bagi guru (Imam dkk., 2004).
Oleh sebab itu, harus dibedakan antara penelitian formal dengan PTK, terutama jika dilihat pada pemetik keuntungan langsungnya (direct beneficiary). Dalam programpelatihan pemetik keuntungan langsung adalah guru yang dilatih, sedangkan untuk PTK pemetik keuntungan langsung adalah murid. Perbedaan antara PTK dengan dengan penelitian formal, menurut Imam dkk. (2004). Dapat dilihat pada Gambar 1.
|
Dimensi |
PTK |
Penelitian Formal |
| Motivasi | Tindakan | Kebenaran |
| Sumber Masalah | Diagnosis status | Induksi-deduksi |
| Tujuan | Mengembangkan praksis pembelajaran | Verifikasi dan menemukan pengetahuan yang dapat digeneralisasikan |
| Keterlibatan Peneliti | Oleh pelaku dari dalam | Oleh orang luar |
| Sampel | Kasus khusus | Representatif |
| Metodologi | Longgar tetapi berusaha objektif | Baku, objektif yang melekat |
| Tafsiran temuan | Memahami praktis melalui refleksi dan penteorian oleh praktisi | Memberikan, mengabstraksikan, membangun teori oleh ilmuwan. |
| Hasil akhir | Pembelajaran yang lebih baik bagi siswa (proses dan produk) | Menguji pengetahuan, prosedur, dan material |