Konsep Dasar PTK Penelitian Tindakan Kelas

Sebelum anda memulai melakukan Penelitian Tindakan Kelas, ada baiknya anda memahami terlebih dahulu konsep dasar penelitian tindakan kelas sehingga anda menjadi betul-betul apa yang akan anda lakukan.

Penelitian tindakan – yang dalam beberapa tahun terakhir ini banyak diminati dan dilakukan oleh para ahli dan praktisi – merupakan bagian dari jenis penelitian partisipatoris. Penelitian tindakan itu sendiri, menurut Zuber-Skerrit (1996), dapat dibedakan atas penelitian tindakan yang bersifat teknis, praktis dan emansipatoris. Di bidang pendidikan, penerapan penelitian tindakan mulai dilakukan Indonesia menjelang pertegahan tahun 1990-an berkenaan dengan proyek PGSD dan dilanjutkan dengan penyelenggaraan proyek PGSD tahun 1996.

Menurut John Elliot (dalam Hopkins, 1993), penelitian tindakan adalah suatu kajian tentang situasi sosial dengan tujuan memperbaiki mutu tindakan dalam situasi sosial tersebut. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk memperoleh penilaian praktis dalam situasi konkret. Oleh sebab itu, kesahihan teori atau hipotesis tidak terlalu bergantung pada tes kebenaran ilmiag, melainkan pada manfaatnya dalam membantu masyarakat agar mereka dapat berperilaku secara lebih cerdas dan terampil. Teori divalidasi melalui tindakan praktis.

Untuk mengetahui konsep penelitian tindakan kelas (PTK) – yang di dalam bahasa Inggris disebut classroom action research (CAR) – secara jelas perlu dikemukakan sejumlah batasan tentang penelitian tersebut. Dave Ebbutt, sebagaimana dikutip Hopkins (1993), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah kajian sistematik tentang upaya meningkatkan mutu praktik pendidikan oleh sekelompook masyarakat melalui tindakan praktis yang mereka lakukan dan melalui refleksi atas hasil tindakan tersebut.

Sementara itu, menurut Kemmis dan McTanggart (dalam Soly Abimanyu, 1995), penelitian tindakan adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri, tetapi dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas diri. Sebagai bentuk penelitian praktis, dalam bidang pendidikan penelitian tindakan ini mengacu pada apa yang dilakukan guru untuk memperbaiki proses pengajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Penelitian ini dapat dilakukan guru secara perorangan untuk kepentingan perbaikan pengajarannya di kelas atau dilakukan oleh sekelompok atau seluruh guru untuk memperbaiki keadaan sekolah.

Suharsimi Arikunto (2006) menjelaskan frasa penelitian tindakan kelas dari unsur kata pembentuknya, yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Penelitian mengacu pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara atau aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Tindakan mengacu pada suatu gerak tindakan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian tindakan kelas, tindakan itu berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. Kelas mengacu pada pengertian yang tidak terkait pada ruang kelas, tetapi pada pengertian yang lebih spesifik. Istilah kelas mengacu pada sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama. Kelas bukan wujud ruang, tetapi sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Dengan demikian, penelitian tindakan  kelas dapat dilakukan tidak hanya di ruang kelas, tetapi di mana saja tempatnya, yang penting ada sekelompok anak belajar. Pembelajaran dapat terjadi di labolatorium, di perpustakaan, dilapangan olahraga, di tempat kunjungan, atau tempat lain.

Dengan menggabungkan batasan pengertian ketiga kata tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu proses pencermatan terhadap kegiatan berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan guru yang dilakukan oleh siswa.

Dari pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang bersifat reflektif. Kegiatan penelitian berangkat dari permasalahan riil yang dihadapi oleh guru dalam proses belajar mengajar, kemudian direfleksikan alternatif pemecahan masalahnya yang ditindaklanjuti dengan tindakan-tindakan nyata yang terencana dan terukur. Hal penting dalam PTK adalah tindakan nyata (action) yang dilakukan guru (dan bersama pihak lain) untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar. Tindakan itu harus direncanakan dengan baik dan dapat diukur tingkat keberhasilannya dlam pemecahan masalah tersebut. Jika ternyata program itu belum dapat memecahkan masalah yang ada, maka perlu dilakukan penelitian  siklus berikutnya (siklus kedua) untuk mencoba tindakan lain (alternatif pemecahan yang lain sampai permasalahan dapat diatasi).

Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa dalam kegiatan penelitian tindakan, guru merupakan faktor utama yang harus memainkan perannya secara baik. Guru dituntut memiliki kepekaan terhadap setiap permasalahan dalam proses belajar mengajar. Tanpa kepekaan itu guru sulit menemukan permasalahan yang layak untuk diteliti atau diperbaiki. Dan jika itu yang terjadi, guru sulit untuk memperbaiki sistem yang ada.

Tulisannya bersambung …

This entry was posted in Penelitian Tindakan Kelas and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>